Menyeberangi Batas-Batas
Seorang teman meminta saya menulis pengalaman belajar dari tradisi pesantren yang sering saya kunjungi, dan merefleksikannya di dalam cara saya memahami masalah pluralisme. Saya menulis esei yang saya anggap sangat personal, dan diterbitkan dalam www.pondokpesantren.net tanggal 26 Februari lalu. Kutipannya:
ESEI ini merupakan catatan personal. Atau bahkan terlalu personal, sehingga saya sering berpikir apakah memang layak dipublikasikan. Akan tetapi, setidaknya saya sendiri percaya, apa yang sering diistilahkan sebagai ‘dialog antar-iman’ atau ‘pluralisme’—kata-kata yang sering menimbulkan, sengaja atau tidak, kesalahpahaman—sesungguhnya berangkat dari, dan merupakan cermin, pengalaman personal.
Saya lupa siapa yang pernah merumuskannya, bahwa dialog antar-iman tidak lain dari pengembangan suatu ‘percakapan di antara sahabat’. Memang ada semacam lingkaran tautologis di situ. Bukankah semangat dialog diandaikan sebagai titik awal membangun persahabatan? Tetapi, pada saat bersamaan, suatu dialog yang genuine, sungguh-sungguh, dan saling menghargai juga mengandaikan adanya relasi saling mempercayai—suatu persahabatan.
Pengalaman saya sendiri selama lebih dari sepuluh tahun merawat dan mengembangkan dialog antar-iman lewat MADIA (Masyarakat Dialog Antar Agama) makin menyadarkan saya tentang lingkaran tautologis itu. Dialog merupakan pertaruhan untuk membangun jalinan antar-individu atau kelompok, namun pada saat bersamaan mengandaikan keterbukaan awal yang dimulai dari perjumpaan-perjumpaan pada tataran personal. Tanpa kehendak baik itu, batas-batas antar-kelompok sungguh menjadi batas yang memisahkan. Apalagi jika pertaruhan itu menyangkut soal yang ultim: tradisi keyakinan dan keagamaan yang selama ini dihidupi seseorang atau suatu kelompok.
Esei ini mau mengelaborasi soal itu, dengan berangkat dari pengalaman personal, guna mencari model-model pluralisme yang lebih membumi. Karena dalam pertautan antar-kelompok itulah terletak nasib pertaruhan masyarakat multikultural kita, yakni Indonesia sebagai ‘rumah bersama’.
Jika tertarik membaca esei itu secara keseluruhan, silakan diunduh di sini. Semoga berguna

Mas, saya minta izin taut blog Mas Tris di blog saya, fayyadl.wordpress.com
~ Fayyadl