Hantu itu bernama kekerasan…
“A spectre is haunting Indonesia… the spectre of Violence.” Saya yakin, seandainya Karl Marx hidup di Indonesia sekarang, maka kalimat pembukaan The Communist Manifeto-nya yang sangat mahsyur akan dibuka dengan kalimat itu.
Pasca runtuhnya Orde Baru acap membuat kita terperangah. Tiba-tiba kita saar betapa ilusifnya “ke(ny)amanan” harmoni yang selama ini berhasil dijaga baik oleh Soeharto dan para jenderalnya. Sementara di arus bawah, proses-proses kekerasan terus berlangsung. Juga trauma kekerasan ketika setengah sampai dua juta orang (simpatisan) PKI dibantai. Itu semua rapi tersimpan di bawah permukaan serba tenteram yang dijaga oleh pertumbuhan fantastis ekonomi, pameran kekayaan OKB (orang kaya baru), maupun stabilitas Pancasila.
Lalu, Mei 1998, semuanya runtuh. Tiba-tiba bangsa Indonesia tidak lagi ramah. Malah begitu ganas. Begitu purba. Begitu tak beradab. Anda masih ingat foto yang sempat beredar dari konflik di Sambas, Kalimantan, ketika kepala orang-orang yang dipenggal dijejer di pinggir jalan? Atau foto konflik di Maluku yang sering dipakai untuk memanas-manasi salah satu kelompok yang bertikai? Atau foto dari Dili, Timtim, yang menampakkan tubuh tergeletak bersimbah darah di jalanan, sementara tentara bergerombol dan, mungkin, tertawa-tawa? Atau foto tubuh-tubuh orang miskin kota yang hangus akibat Jakarta yang membara pada Mei 1998? dstnya, dstnya.
Richard Lloyd Parry, koresponden The Times (London) mengikuti bagaimana monster kekerasan itu mulai tumbuh (bersama dengan penghancuran markas PDI-P di jl Diponegoro), membesar, menghancurkan, dan meneror siapa saja yang ada di dekatnya. Termasuk Parry yang, ketika kekerasan pecah di Dili pasca jajak pendapat, mengaku harus lari menyelamatkan diri, lalu menanggung trauma dan malu begitu lama.
Buku In Time of Madness yang ditulis Parry adalah proses terapeutis bagi traumanya. Ditulis dengan gaya bahasa ala realisme magis, genre yang lahir di benua Amerika Latin (benua yang juga dipenuhi hantu sejarah!), membaca buku ini membuat saya merenung panjang tentang proyek “menjadi Indonesia” kita yang berdarah-darah. (Saya menulis kesan-kesan saya di sini. Silakan diunduh, jika Anda merasa berguna.) Jangan-jangan Parry benar, ketika ia mengatakan bahwa Indonesia dibangun di atas “lubang kelam sejarah”, yakni pembantaian PKI dan teror yang diciptakannya. Ke dalam lubang itulah tubuh-tubuh yang dibantai dibuang.
Lubang itu kini terbuka, bersamaan dengan proses demokra(tisa)si yang serba carut marut. Dan, sungguh, bau busuknya membuat kita pengap. Juga hantu-hantunya memambangi perjalanan sejarah kita. Entah sampai kapan.
